Keseruan Konser Musik Rock ala Anime String Orchestra

Haryo Yose Soejoto dan Eko Balung
KelasMusik.Com – Festival teater Salihara sepertinya menjadi acara terspektakuler di dalam dunia seni musik. Festival yang diselenggarakan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (13/09) itu benar- benar mampu membawa para penontonya flashbak ke dalam tahun 70-an. Pembukaan Festival bertajuk ‘Magical Mystery Tour’ Animé String Orchestra tersebut diisi oleh lagu- lagu terpopuler The Beatles, Jimmy Hendrix Lake & Palmer (ELP) – yang dibungkus dengan aransemen spektakuler oleh Haryo ‘Yose’ Soejoto serta dimainkan dengan instrumen gesek. anime string orchestra 4
Animé String Orchestra cukup popular dikalangan para penikmat musik tanah air. Orchestra ini didirikan oleh Haryo ‘Yose’ Soejoto pada tahun 2001. Beliau mampu menjadi dalang dalam keseruan- keseruan yang dihadirkan dalam setiap pementasannya, termasuk dalam konser bertemakan “Magical Mystery Tour’ ini. Terlebih lagi ketika sistem audio konvensional tidak lagi diikut- sertakan sebagai bentuk penghargaan terhadap alat musik akustik yang dimainkan.
anime string orchestra 3 Terdapat beberapa alasan penting mengapa maestro berumur 62 tahun ini menggunakan ‘Magical Mystery Tour’ dalam konser yang diselenggarakan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (13/09) kemarin. Magical Mystery Tour sejatinya diambil dari salah satu title lagu The Beatles. “Saya memilih nama ‘Magical Mystery Tour’ untuk pertunjukan karena Anime String Orchestra diharapkan mampu membawa penonton flashback kembali ke tahun 70an silam dengan unsur- unsur magic yang terkandung melalui aransemen yang saya ciptakan,” kata Haryo Yose Soetojo ditemuinya di Pagelaran Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (13/09) kemarin.anime string orchestra 1
Magic yang dimaksud oleh beliau bukanlah magic yang sering dijumpai di pertunjukan sulap namun magic yang lebih condong ke arah musikal sehingga mampu membawa para penonton menikmati sensasi musikalitas orchestra secara menyeluruh tanpa mengabaikan sentuhan rock di dalamnya.
Tak hanya sebatas itu saja, menurut pria yang pernah lulus dari akademi musik Indonesia (AMI) ini, terdapat 30 pemusik yang ikut andil dalam pagelaran orchestra ini. Menurutnya penggunaan media konvesnional justru mengurangi kehidupan musik itu sendiri. ” Kawan-kawan harus mampu memainkan musik dengan hidup sesuai namanya orchestra anime string,” tegas Haryo. Meskipun penggunaan media konvensional dieliminasikan seperti halnya ‘mikrophone’ namun tak lantas membuat keseruan konser tersebut memudar, justru keindahan lagu dan iringan orchestra nya justru semakin kental, begitupula dengan unsur ‘rock’ nya yang berbaur menjadi satu.
Beliau menambahkan bahwasanya team harus bisa membangun keseruan serta memainkan alat musik tanpa bantuan media konvensional. Seperti halnya namanya, ‘Animé’ yang berasal dari Bahasa Prancis yang berarti hidup. Hidup dalam hal ini berarti kehidupan musikalitas yang dibangun secara natural tanpa melibatkan media- media modern yang sejatinya mampu mengurangi keorisinilan musik tersebut.

Di sisi lain, para seniman ternama juga turut berpartisipasi dan memeriahkan Festival Salihara ke 5 ini. Beberapa diantaranya Resital Duo Akordeon yang dibawakan TOEAC dari Belanda, Tari Darvish oleh Ziya Azazi dari Austria, dan Musik CIRCUIT oleh speak Percussion dari Australia dan juga Resital Organ Pipa yang dibawakan Katerina Chrobokova dari Republik Ceko.

Selain konser, terdapat pula teater berjudul “Surat ke Langit” yang diproduksi oleh Papermoon puppet theater, tari bertemakan Be your self dibawakan Australian Dance Theater dari Australia, “Revolution” Classic dance oleh Compagnie Oliver Dubois dari Prancis dan ada pula tari “A part of Passion”yang dipersembahkan oleh Danang Pamungkas dari Indonesia. Budrugana membawakan Teater yang bertajuk The Four Season of The Year & Isn’t This A lovely Day dengan meriah dan extra- ordinary. Bahkan konser Ensamble Modern asal Jerman juga turut memeriahkan teater tersebut.

Share this article!

Speak Your Mind

*